Oleh: Cerpen Cerita Pendek
Akan Kuceritakan Padamu, Kawan - Engkau mungkin tidak pernah mengalami hidup sesulit seperti yang aku jalani. Atau apa yang engkau katakan sulit, dibanding dengan kesulitan hidupku, yang engkau alami tidak ada apa-apanya. Orang bilang hanya setahi kuku!
Akan Kuceritakan Padamu, Kawan - Engkau mungkin tidak pernah mengalami hidup sesulit seperti yang aku jalani. Atau apa yang engkau katakan sulit, dibanding dengan kesulitan hidupku, yang engkau alami tidak ada apa-apanya. Orang bilang hanya setahi kuku!
Malam ini akan aku ceritakan padamu, betapa hidupku adalah rangkaian kesulitan. Di luar, kulihat dari kaca jendela kamarku yang buram, malam pekat dengan hawa dingin yang menusuk. Rasanya alam berkonspirasi membantuku untuk menuturkan kisah hidupku ini.
Hidup manusia memang ada yang senang dan ada yang susah. Aku belum terlalu dalam memikirkan, kenapa Allah menakdirkan seseorang hidup senang. Dan kenapa juga Allah menakdirkan seseorang untuk hidup dikuasai kesusahan. Aku cuma yakin, itu semua rencana Allah yang mempunyai maksud tertentu pada setiap manusia.
Mungkin untuk menguji.... Mungkin juga untuk menghukum... Entahlah, Allah tidak sesederhana itu untuk dipahami. Semua yang terjadi, ya semua, atas kehendak kekuasaan Allah...
Hidup manusia memang ada yang senang dan ada yang susah. Aku belum terlalu dalam memikirkan, kenapa Allah menakdirkan seseorang hidup senang. Dan kenapa juga Allah menakdirkan seseorang untuk hidup dikuasai kesusahan. Aku cuma yakin, itu semua rencana Allah yang mempunyai maksud tertentu pada setiap manusia.
Mungkin untuk menguji.... Mungkin juga untuk menghukum... Entahlah, Allah tidak sesederhana itu untuk dipahami. Semua yang terjadi, ya semua, atas kehendak kekuasaan Allah...
Malam ini akan kuceritakan padamu, kawan. Betapa hidupku selalu dalam kesulitan. Aku bukan tidak berusaha sepertimu yang kelihatannya hidup senang. Punya rumah sendiri, aku kontraktor...maksudnya: mengontrak rumah (kecil) ... belum mampu mempunyai rumah sendiri - atau mungkin tidak akan pernah punya rumah sendiri, mengingat umurku hampir 50 tahun.
Kendaraan?
Aku cuma punya motor butut keluaran tahun 89.
Istri?
Kabur tiga tahun yang lalu karena tak kuat terbawa menderita dengan kesulitan hidupku.
Anak?
Ikut ibunya, dirawat sama neneknya. Aku sekarang sebatang kara.
Aku takjub dengan ibuku. Dengan usaha warung kecilnya itu ia menyekolahkan kakakku sampai SPG (Sekolah Pendidikan Guru) dan kemudian berhasil menjadi PNS sebagai guru SD. Aku sendiri sekolah sampai tamat SMA. Waktu itu SPG sudah tutup. Jadi meski ibu menginginkan aku seperti kakakku, peluang itu sudah tidak ada. Untuk kuliah, ke IKIP misalnya, jelas ibuku tak mampu membiayainya.
Kendaraan?
Aku cuma punya motor butut keluaran tahun 89.
Istri?
Kabur tiga tahun yang lalu karena tak kuat terbawa menderita dengan kesulitan hidupku.
Anak?
Ikut ibunya, dirawat sama neneknya. Aku sekarang sebatang kara.
Tentang Bapakku
Kesulitan telah menjadi takdir yang dominan dalam hidupku. Sejak kecil. Bapakku pergi entah ke mana sejak aku berusia 2 tahun. Tak ada memori yang tegas tentang bapakku. Dan tak banyak yang bisa kuceritakan tentang dia.Tentang Ibuku
Aku dibesarkan oleh ibu yang tabah. Ia melanjutkan warung yang ditinggalkan oleh bapak, meskipun pelan-pelan warung itu bangkrut. Dari warung kelontong dan berakhir sebagai warung yang menjual makanan ringan buat anak-anak sekolah dan gorengan. Dari hasil warung itu ibuku menyekolahkan aku dengan kakakku.Aku takjub dengan ibuku. Dengan usaha warung kecilnya itu ia menyekolahkan kakakku sampai SPG (Sekolah Pendidikan Guru) dan kemudian berhasil menjadi PNS sebagai guru SD. Aku sendiri sekolah sampai tamat SMA. Waktu itu SPG sudah tutup. Jadi meski ibu menginginkan aku seperti kakakku, peluang itu sudah tidak ada. Untuk kuliah, ke IKIP misalnya, jelas ibuku tak mampu membiayainya.
***
